Mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan bukan lagi sekadar tuntutan regulasi, tetapi telah menjadi kebutuhan mendesak bagi seluruh institusi pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Semangat inilah yang tercermin dalam artikel ilmiah dosen Universitas Bale Bandung (UNIBBA), yaitu Dr. Yayu Sri Rahayu, M.Pd., Deanty Rumandang Bulan, S.S., M.A., Rifi Rivani Radiansyah, S.Ip., M.Si., dan Fadli Azis, S.Si., M.Mat., yang berjudul “Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (PPKSP)” yang dipublikasikan pada Jurnal Kontribusi Volume 5 Nomor 2 Tahun 2025.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang menerapkan pendekatan service learning, tim dosen UNIBBA berhasil menunjukkan bahwa edukasi yang dilakukan secara partisipatif mampu meningkatkan pemahaman peserta mengenai berbagai bentuk kekerasan, hak korban, mekanisme pelaporan, hingga komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Pemahaman peserta mengenai jenis-jenis kekerasan meningkat dari 41 persen menjadi 96 persen, pemahaman terhadap mekanisme pelaporan naik dari 24 persen menjadi 94 persen, sementara kesadaran akan hak dan perlindungan peserta didik meningkat hingga mencapai 100 persen setelah kegiatan berlangsung.
Temuan tersebut memberikan pesan penting bahwa pencegahan kekerasan tidak cukup dilakukan melalui penyusunan regulasi semata. Edukasi yang berkelanjutan, pelibatan aktif seluruh warga pendidikan, serta tersedianya mekanisme pelaporan yang mudah diakses menjadi faktor utama dalam membangun budaya anti-kekerasan.
Meski penelitian dilaksanakan pada jenjang sekolah menengah, nilai-nilai yang dihasilkan memiliki relevansi yang sangat kuat bagi lingkungan perguruan tinggi, termasuk Universitas Bale Bandung. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu perundungan, kekerasan seksual, diskriminasi, penyalahgunaan relasi kuasa, hingga kekerasan verbal di lingkungan kampus, implementasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem akademik yang sehat.
Pendekatan service learning yang digunakan dalam penelitian juga memperlihatkan bahwa pembelajaran yang melibatkan diskusi, simulasi kasus, refleksi, serta pengalaman langsung mampu membangun kepedulian sosial dan keberanian peserta untuk mengenali maupun melaporkan tindakan kekerasan. Model pembelajaran seperti ini dinilai sangat relevan untuk diterapkan dalam berbagai program edukasi PPKPT di lingkungan UNIBBA.
“Lingkungan belajar yang aman bukan hanya menjadi tanggung jawab pimpinan kampus atau dosen, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh sivitas akademika. Pencegahan kekerasan harus dimulai dari tumbuhnya kesadaran bersama, keberanian untuk saling mengingatkan, dan komitmen menciptakan budaya saling menghormati,” ujar tim penulis dalam semangat yang tercermin dari hasil penelitian tersebut.
Temuan penelitian ini sekaligus memperlihatkan peran strategis perguruan tinggi melalui pelaksanaan Tri Dharma, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi mampu menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan sosial yang dihadapi dunia pendidikan.
Bagi UNIBBA, hasil penelitian ini dapat menjadi pijakan dalam memperkuat implementasi PPKPT melalui berbagai program edukasi, pelatihan bagi dosen dan tenaga kependidikan, penguatan peran mahasiswa sebagai agen perubahan, optimalisasi mekanisme pelaporan, serta peningkatan kapasitas satuan tugas PPKPT agar mampu memberikan perlindungan yang cepat, adil, dan berpihak kepada korban.
Implementasi PPKPT bukan sekadar memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan, tetapi merupakan wujud komitmen Universitas Bale Bandung dalam membangun kampus yang inklusif, bermartabat, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui riset dan pengabdian masyarakat yang dilakukan dosen-dosennya, UNIBBA kembali menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai pelopor perubahan sosial. Kampus yang bebas dari kekerasan akan melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, empati, integritas, dan kepedulian terhadap sesama.
Karena kampus yang hebat bukan hanya menghasilkan sarjana yang cerdas, tetapi juga membangun lingkungan belajar yang aman, saling menghormati, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Untuk membaca artikel ini >>>>>>> Klik Disini <<<<<<<

